ETIKA BISNIS
Pendekatan Filsafat Moral terhadap Perilaku Pembisnis Kontenporer
L. Sinuor Yosephus
BAB I
1. Etika : Hakikat dan Tujuan
Pada tataran umum, merumuskan atau mendeskripsikan hakikat etika bisnis adalah identik dengan menegaskan bahwa secara esensial etika memang memiliki tujuan tertentu.

a. Hakikat Etika dan Moral
Kata etika berasal dari kata Yunani ethos (tunggal) yang berarti adat, kebiasaan, watak,akhlak,sikap, perasaan, dan cara berfikir.
Bentuk jamaknya ta etha. Sebagai bentuk jamak dari ethos, ta etha berarti adat-kebiasaan atau pola pikir yang dianut oleh suatu kelompok orang yang disebut masyarakat atau pola tindakan yang dijunjung tinggi dan dipertahankan oleh masyarakat tertentu.
Di atas dasar inilah, norma dan nilai patut dipertahankan , dijunjung tinggi, dan dikembangkan. Dengan kata lain, dipertahankan-tidaknya suatu norma dalam masyarakat sangat tergantung pada nilai pramatis dari norma tersebut. Pada aras ini, norma memang tidak bisa dipisahkan dari nilai. Namun, bagaimana caranya mempertahankan dan menjunjung tinggi suatu norma moral dalam masyarakat?
Suatu norma dipertahankan karena bernilai bagi masyarakat penganutnya. Oleh karena bernilai, norma tersebut tentu akan terus dipertahankan. Caranya? Biasanya diwariskan secara turun – temurun baik secara lisan maupun secara tertulis. Oleh karena benar dan baik, norma yang dipertahankan itu dijadikan sebagai patokan untuk mengukur dan menilai tindakan atau perilaku seseorang bahkan orang yang berperilaku itu sendiri.

b. Tujuan Etika

1. Membantu kita untuk mampu mengambil sikap yang tepat pada saat menghadapi konflik nilai.
2. Membantu kita untuk mengambil sikap yang tepat dalam menghadapi tranformasi di segala bidang kehidupan sebagai akibat modernisasi.
3. Memampukan kita untuk selalu bersikap kritis terhadap berbagai ideologi baru.
4. Khusus untuk para mahasiswa. Dengan sedikit berorentasi futurisktik, saya ingin menegaskan bahwa etika sangat berguna bai para mahasiswa dalam kapasitas mereka sebagai anggota komunitas intelektual.
2. Metode dan Jenis Etika

a. Metode Etika
Tentang metode etika belum ada kesepakatan final diantara para filsufetikawan. Walaupun demikian, rupanya para filsuf dan etikawan kontemporer cenderung mengakui bahwa metode kritis dan sistematis adalah dua metode yang paling umum diterapkan dalam semua aliran etika.
Metode atau cara kerja etika yang pertama adalah metode kristis. Ciri khas metode kritis – etis nampak jelas dalam pertanyaan khas sehubungan dengan realitas moral, yakni adat – istiadat, kebiasaan, nilai dan norma moral yang sudah lama dianut oleh masyarakat.

b. Jenis – jenis Etika
Wacana tentang jenis – jenis etika pada dasarnya identik dengan analis tentang pendekatan – pendekatan ilmiah terhadap tingkah dan tindakan manusia dalam bingkai moralitas. Sampai saat ini umumnya disepakati oleh para filsuf-etikawan perihal adanya tiga jenis pendekatan ilmiah terhadap perilaku moral manusia sebagai tiga jenis etika. Ketiga pendekatan tersebut tiada lain adalah pendekatan desktiptif (etika deskriptif), pendekatan normatif (etika normatif), dasn pendekatan metaetik atau metaetika.

3. Etika Filsafat Moral
Dengan mengatakan bahwa etika identik dengan filsafat moral adalah persis sama dengan menegaskan bahwa pada hakikatnya etika merupakan ilmu.
4. Dimensi – dimensi Etika
Dimensi/ Segi Tinjau. Indikator (baik/tepat secara moral).
Deontologis (Immanuel Kant).  Keharusan teknis (Pakai mobil-isi bensin).
 Keharusan pragmatis (supaya gaji tidak dipotong, jangan bolos bekerja).
 Keharusan bersyarat (imperatif hipotesis).
 Keharusan tanpa syarat (imperatif kategoris).
 Wajib dilakukan karena pihak lain berhak untuk itu (hak – kewajiban).
Teleologis (telos = tujuan)  Berguna bagi pelaku (egoisme etis)
 Berguna bagi semua orang yang terkena dampkanya (universalisme etis).
Keadilan (tribuere quique suum).  Tertuju kepada orang lain.
 Wajib ditegakkan.
 Menuntut persamaan.
Keutamaan (arete/virtue  Kebijaksanaan
 Kejujuran
 Keadilan
 Kepercayaan
 Sportivitas
 Keuletan(keberanian moral)
 Keramahan

 Loyalitas
 Hormat
 Rasa malu
 Otentisitas
 Kebebasan
 Tanggung jawab
 Kepedulian
 Realistik

5. Etika, Moralitas, dan Etiket
Etiquette atau etiket (Indonesia) adalah norma sopan santu. Seperti halnya posisi etika terhadap moralitas, demikian juga posisi etika terhadap etiket atau norma sapan santun.

6. Etika, Moralitas, dan Agama

persoalan lain yang juga dikemukakan di sini adalah hubungan di antara etika, moralitas, dan agama. Adakah hubungan diantara etika, moralitas dan agama. Adakah hubungan diantara etika, moralitas, dan agama? jawabnya adalah ada. ” Agamaku melarang melakukan korupsi” atau ” korupsi adalah perbuatan melanggar norma agama” paling kerap dipakai sebagai alasan untuk tidak melakukan korupsi.

BAB II
 pengantar
Bisnis Kontemporer, jika dicermati secara saksama nampak sebagai suatu realitas yang teramat kompleks. Kompleksitas bisnis tidak bisa dipahami secara terpisah dari masyarakat yang pada dirinya sendiri juga memliki struktur sangat kompleks.
1. Hakikat Bisnis
Secara hakiki, bisnis merupakan urusan khas manusia. Sebagai urusan khas manusia, bisnis menjaring semua orang tanpa terkecuali.
Salah satu unsur penciri manusia adalah keinginan. Pada taraf yang lebih kuat keinginan akan berubah menjadi hasrat yang selanjutnya akan meninggi menjadi nafsu jika hasrat tak terpenuhi.
Salah satu keinginan manusia adalah menjadi lebih baik secara ekonomis. Dari hari ke hari, manusia selalu dirangsang oleh keinginan untuk menjadi lebih baik dalam segi ini.
Bisnis lahir dari dalam inti kesendirian manusia, dari keinginan untuk sekadar bertahan hidup dan meningkat menjadi the haves dari segi ekonomis.
a. Bisnis sebagai Entitas Korporatif
Perusahaan, organisasi bisnis, atau korporasi merupakan istilah – istilah khas yang dipakai untuk menjelaskan bisnis sebagai suatu entitas.
Semuanya menunjukkan hakikat bisnis sebagai aktivitas yang kurang lebih terstruktur. Istilah “korporasi”dengan cukup jelas memerlihatkan hal ini. Corporate (Inggris) atau korporasi sesungguhnya diasalkan dari bahasa Latin “corpus” yang berarti badan atau tubuh.
Sebagai corpus atau tubuh, bisnis memiliki kepala yang tiada lain adalah pemimpin perusahaan, termasuk para manajer. Seperti halnya kepala manusia yang terdiri dari mata, telingga, hidung, mulut, dan otak sebagai bagian terpending dari kepala, demikian halnya manajemen dalam konteks bisnis. Bisnis tentu harus memiliki visi (mata) dengan implikasi konkret, para manajer haruslah orang-orang yang berorientasi dan berwawasan masa depan. Mereka adalah future oriented dan forward looking person. Sebagai pimpinan suatu organisasi bisnis mereka juga semestinya peka terhadap semua informasi dan perubahan – perubahan yang terjadi, khususnya yang berhubungan dengan kecenderungan – kecendurungan masyarakat sehingga dapat menciptakan peluang bisnis dan mampu memergunakan peluang tersebut (telingga). Mereka juga dituntut agar dapat mengomunkasikan keungulan – kengulan mereka melalui kiat – kiat strategi pemasaran yang memadai serta mengulirkan bentuk – bentuk promosi yang tepat sehingga mampu merebut minat minta pelanggan dan pemasok (mulut).
Selain kepala dan semua yang termasuk dalam wilayah kepala (para manajer), juga bahu kelar dan kokoh yang tiada lain adalah sekuritas yang bertugas tidak hanya untuk menompang melainkan juga untuk memperkuat kepala. Semuanya tentu akan menjalankan fungsi pengamanannya dengan baik jika didasarkan atas perintah kepala yang berkemampuan intelektual, emosional, dan spritual yang tinggi. Namun, semua tugas praktis tentu tidak dapat dijalankan oleh sang kepala bahu. Adalah kaki dan tangan tubuh besar yang menjadikan tubuh besar itu sungguh – sungguh operasional dan dinamis. Mereka adalah karyawan dan karayawati yang melaksanakan peran dan fungsi kunci dalam sebuah bisnis.

b. Bisnis sebagai Kegiatan Bersasaran.
Mengatakan bisnis merupakan kegiatan yang kurang lebih terstruktur sesungguhnya identik dengan menegaskan bahwa bisnis merupakan urusan atau kegiatan yang bertujuan atau bersasaran. Tujuan atau sasaran bisnis tidak dapat dipisahkan dari kodrat manusia yang selalu berkeinginan atau berhasrat untuk menjadi lebih baik dalam berbagai aspek dan segi kehidupan. Pada aras ini, tujuan bisnis adalah melipatgandakan keuntungan atau memaksimalkan profit. Dasar pijaknya adalah bahwa bisnis tidak dapat dipisahkan dari kenyataan hidup konkret manusia. Jadi, bisnis merupakan kegiatan bersasaran. Sasarannya adalah kehidupan yang lebih baik dan sejahtera di masa depan.

c. Bisnis sebagai Kegiatan Relasional.
Setiap bisnis atau usaha, apapun bentuk dan skalanya selalu memiliki keterarahan kepada maksimalisasi keuntungan sebagai tujuan utamanya.Penegasan seperti ini merupakan indikasi konkret bahwa bisnis tidak bisa terlaksana tanpa keterlibatan pihak – pihak lain, paling kurang adalah pihak yang memproduksi atau menyediakan barang dan jasa serta ada pula orang yang menikmati barang dan jasa yang disediakan itu atau yang lazim disebut dalam ilmu ekonomi sebagai konsumen atau pelangan.
Atas dasar inilah teori – teori khas dalam dunis bisnis, seperti stakeholders, shareholders,dan stockholder theories dibangun.
Tentang relasi bisnis, ada relasi secara langsung dan ada juga relasi tidak langsung.
Kedua jenis relasi itu dalam wacana bisnis disebut jejaring atau jaring – jaring bisnis.

d. Bisnis sebagai Sarana Pengembangan Diri.

Simon Webley dalam Peter W.F. Davies (1997: 65) menegaskan Peran suatu organisasi bisnis, apapun ukurannya dapat dijelaskan dalam relasinya dengan organisasi bisnis-organisasi bisnis yang lain dan melalui perilaku semua yang terjaring dalam organisasi profit-orientied tersebut, misalnya perlakuan manajemen terhadap pekerja (internal) dan terhadap konsumen (eksternal)
Mengatakan bahwa setiap organisasi bisnis selalu berorientasi kepada miximizing profit, memang tidak keliru, namun hal itu sama sekali tidak berarti bahwa keuntungan adalah segala – galanya. Titik tolaknya adalah keinginan dan hasrat semua orang, termasuk para pebisnis untuk menjadi lebih baik.
Seorang pebisnis sejati ingin membangun dan terus mengembangkan usahanya sedemikian rupa sehingga kokoh dan tahan terhadap segala jenis badai global yang tak kenal ampun.

2. Dimensi – dimensi Bisnis.

a. Dimensi Sosial Bisnis.
Sebagai aktifitas sosial, bisnis dicirikan oleh beberapa hal berikut sebgai indikator – indikatornya:

1. Melibatkan paling kurang dua pihak.
2. Selalu dilakukan dengan atau atas pamrih tertentu.
3. Posisi kepentingan semua pihak setara.
b. Dimensi Hukum
Dimensi hukum didasarkan pada aspek khusus bisnis yang bersifat normatif. Maksudnya, setiap bisnis, apapun jenis dan ukurannya selalu terikat pada hukum dan peraturan tertentu.

c. Dimensi Moral.
Dimensi Indikator
Sosial

 Other Directedness.
 Melibatkan paling kurang dua pihak.
 Demi tujuan tertentu.
 Menguntungkan semua pihak.
Ekonomis

 Profit Orientied
 Efisiensi dalam proses
 Produktivitas
 Biaya produksi rendah
 Harga produk bersaing
 Kualitas produk dan pelayanan prima
Hukum / Yuridis  Didasarkan atas hukum
 Tidak memanfaatkan loopholes of the law untuk kepentingan diri sendiri
 Tunduk kepada semua peraturan yang berlaku
Moral  Dilandaskan pada nilai keadilan
 Didasarkan pada nila kejujuran
 Kesetaraan secara bertanggung jawab

3. Tujuan Bisnis.
a. Keuntungan sebagai Satu – satunya Tujuan Bisnis.
Melipatkan nilai – nilai pemilik perusahaan melalui penjualan barang / jasa.

b. Good Ethic – Good Business.
Pada tataran ini, etika merupakan penentu keberhasilan suatu bisnis. Namun, bukan karena mau memenangkan kompetisi bisnis, atau juga bukan karena mau berhasil meraup keuntungan yang berlipat ganda seseorang pebisnis harus berperilaku moral. Hal ini berarti dia hanya mau menjadi seorang yang jujur, adil, dan bertanggung jawab kalau dia ingin menjadi kaya.

” Catatan” : sebagai catatan untuk bab ini akan saya paparkan ” nama baik” sebagai salah satu patokan dalam berbisnis secara etis.
adalah Marcus Tullius Cicero (106-43sM) yang pertama kali menggaskan hal ini. Menurutnya, “momen est omen” atau nama identik dengan nama si pemilik. Seluruh kepbribadian si pemilik nama terwakili dalam nama tersebut.
Dalam bisnis kontemporer, para pebisnis dapat dikategorikan berdasarkan kedua gagasan di atas.
Dengan demikian, menurut Aristoletes, nama baik atau harga diri merupakan hal yang paling unggul dan paling utama dari seseorang. Keunggulan atau keutamaan harga diri atau nama baik terletak pada sarana – sarana yang dipakai untuk menjaganya. Sarana-sarana yang bernilai karena menghasilkan sesuatu yang berharga dalam diri setiap orang itu tiada lain adalah virtue ethic atau keutamaan – keutamaan moral. Di sini-lah semestinya gagasan tentang berbisnis secara moral itu ditempatkan.

BAB 3
Pendekatan – Pendekatan Teoretik-etis Terhadap bisnis
Dalam konteks bisnis sering kita mendengar karyawan/ti saling bertukar paneglam tentang kondisi kerja mereka masing-masing. Hal yang menarik bahwa semua pengalaman kerja, entah getir entah manis, selalu bermuara kepada perilaku dan perlakuan yang diterima dari pimpinan mereka. Penilaian terhadap pimpinan tentu berbeda antar satu karyawan dengan karyawan lainnya. Kalaupun terdapat kesamaan dalam penilaian tersebut, tidak menjadikan pengalaman rasional itu identik. Persoalannya , mengapa mengapa terdapat distingsi dalam penilain karyawan terhadap pimpinan organisasi bisnis.
Ada 3 teori umum dalam yang erat kaitannya dengan pembisnis dan aktifitas bisnis.
1. Teori kebahagian
Teori kebahagian mencakup hedonisme dan utilitarisme.
a) Hedonisme
Sebagai paham atau teori moral , hedonisme bertolak dari asumsi dasar bahwa manusia hendaknya berperilaku sedemikian rupa agar hidupnya bahagia.
Gagasan hedonisme, secara hakiki muncul sebagai teori etika untuk menentang teori-teori etika sebelumnya yang terkenal kaku atau munafik karena hanya menekankan peraturan atau norma-norma moral tanpa penjelasan yang memadai atas norma norma tersebut.
Keterbatansan Hedonisme, a). paham Hedonisme sama sekali tidak cocok dengan pengalam hidup kongkrit sebagian besar umat manusia saat ini. B). kesenangan atau kenikmatan setara moralitas yang baik, c). kekeliruan konseptual.
Implikasi Hedonisme dalam kegiatan bisnis, menurut Hedonisme hakikat setiap manusia kehidupan manusia adalah gerakan manusia dari rasa sakit menuju rasa nikmat, namun, kenikmatan tidak boleh menghalalkan segala cara untuk memperolehnya.
b) Utiliarisme
suatu perbuatan atau tindakan adalah baik jikalau tindakan tersebut bermanfaat atau berguna.
Keterbatasan Utilitarisme, a). aspek keadilan, b), Utilitarisme juga tidak menjamin hak hak asasi manusia , c). Utilitarisme begitu saja mengidentifikasi kesenangan dengan kebahagian. d). pengukuran rasa nikmat atau rasa senang.
2. Deontologi
Teori ini mengukur baik atau buruknya suatu tindakan dari segi wajib dan tidaknya perbuatan tersebut dilakukan.
3. Etika keutamaan
Kepribadian yang kuat dan mantab secara moral hanya dapat dicermati melalui sikap sikap moral.
Ada sembila keutamaan etis dalam etika yaitu, kejujuran, kepercayaan, tanggung jawab,keberanian moral, fairness,realistis,hormat kepada diri sendiri dan orang lain,kepedulian.

BAB 4
Etika dalam Berbisnis

1. Etika bisnis : kekhasan manusia ?
Etika sebagai refleksi kritis atas perilaku manusia sebagai manusia atau bahwa dalam menghadapi konflik konflik yang berhubungan dengan norma-norma moral , para pembisnis dan mendahulukan pertimbangan rasional.
2. Etika bisnis dalam sorotan
Sejumlah orang menganggap profesi pembisnis itu sebagai praktik hidup yang rendah karena perhelatannya sering bertentangan dengan norma norma yang dijunjung tinggi , khususnya norma norma umum, seperti keadilan, kejujuran dan tanggung jawab. Akibatnya, para pembisnis atau pedagang sering dicurigai.
3. Etika bisnis dan pebisnis
Etika bisnis merupakan unsur penting karena dapat melanggengkan suatu bisnis atau bahwa etika merupakan prasyarat tumbuhnya sikap sikap moral, khususnya sikap saling percaya, jujur, adil, dan tanggung jawab dalam kaitannya dengan stakeholders.
a) etika bisnis sebagai penyadaran
b) etika bisnis sebagai sarana pembelajaran
c) etika bisnis sebagai jalan kebijaksanaan bagi pembisnis
4. Etika bisnis Indonesia selayang pandang
Dalam konteks Indonesia, etika bisnis merupakan suatu yang lama tetapi sekaligus baru. Sebagai suatu yang bukan baru , etika bisnis eksis bersaan dengan hadirnya bisnis dalam masyarakat Indonesia. Artinya, usia etika bisnis sama dengan usia bisnis yang dilakukan oleh masyrakat Indonesia.

BAB 5
Berbisnis pada Tataran Norma Norma

1. Berbisnis secara jujur
Dalam segi hakekat , bisnis keterarahan tunggal, maksimaliasasi keuntungan. Urusan bisnis yaitu bisnis itu sendiri, yakni keuntungan. Bertolak dari prinsip ini, para pembisnis kontenporer menganggap bisnis memiliki rule of game atau aturan aturan mainnya sendiri.atauran maennya dalah menarik pelanggan sebanyak mungkin dalam dalam waktu sesingkat singkatnya dan memaksimalkan profit. Kalau demikian apa sesungguhnya kejujuran atau bersikap jujur?
Yaitu terbuka, tanpa kedok, atau tidak berusaha menyembunyikan keaslian diri sendiri.
2. berbisnis secara adil
Selain kejujuran , keadilan merupakan norma moral umum penting lainnya yang patut dimiliki dan diterapkan oleh para pembisnis dalam menjalankan bisnis mereka. Seseorang tidak boleh mengorbankan hak hak dan kepentingan kepentingan orang lain. Prinsip dasar ini akan membantu kita untuk memahami hakikat dan arti keadilan sebagai norma moral yang berlaku umum bagi semua orang, termasuk para pembisnis.
Jenis jenis keadilan dapat diringkas menjadi dua bagian , yaitu pembagian klasik, pembagian modern.
3. Berbisnis secara tanggung jawab
Selain kejujuran dan keadila, tanggung jawab juga merupakan isu penting lainnya yang marak diwacanakan menyangkut bisnis. Secara kodrati , penegakkan suatu norma moral akan menjadi kian mendesak justru pada saat norma norma tersebut tidak diterapkan. Demikian juga halnya tanggung jawab dalam dunia bisnis. Tanggung jawab pengusaha terhadap kualitas produk , pelayanan kepada konsumen kepada karyawan serta buruh dan sebaliknya.
4. berbisnis diantara hak dan kewajiban
Hak merupakan Klaim yang dibuat oleh seseorang atau kelompok orang kepada orang lain, termasuk masyarakat. Artinya orang yang memilikihak tertentu dapat menuntut agar orang lain wajib menghormati atau menaatinya.
Jenis jenis hak dibagi menjadi empat bagian yaitu, a. hak legal atau moral, b. hak khusu atau umum, c. hak negative atau positif, d. hak individu atau social.
Hubungan antara hak dan kewajiban, dalam dunia bisnis hak dan kewajiban bersifat normatifatau atau konsekuensinyaharus ditaati oleh semua pihak. Pihak tataran ini dapat dikatakan bahwa setiap hak seseorang berkaitan secara langsung dengan kewajiban orang lain.
Sebaliknya ,setiap kewajiban seseorang berkaitan dengan hak orang lain.

JOURNAL ETIKA BISNIS
At American Airlines, a Departing C.E.O.’s Moral Stand
IT seems that every week we hear of a C.E.O. who earned millions from a golden parachute after demonstrating poor business judgment or cutting thousands of jobs with no financial downside for executives. These stories feed the fires of the Occupy movement growing all over the world.
But on Tuesday, we heard something different. American Airlines, once the largest airline in the United States, declared bankruptcy. This is not surprising news for the beleaguered airline industry; what is different is what is emerging from the wreckage. Gerard J. Arpey, American’s chief executive officer and chairman, resigned and stepped away with no severance package and nearly worthless stock holdings. He split with his employer of 30 years out of a belief that bankruptcy was morally wrong, and that he could not, in good conscience, lead an organization that followed this familiar path.
Things have been tough for the so-called legacy carriers since the Airline Deregulation Act of 1978, as they have been pulled in opposing directions by customer demands for lower fares and labor demands for higher wages. The events of 9/11 further shook up the industry, closely followed by the oil crisis and the recent recession.
Since Congress deregulated the industry, it has been common for airlines to claim bankruptcy and regroup under the temporary shelter provided by Chapter 11. Continental filed in 1983 and 1990, United in 2002, US Airways in 2002 and 2004, and Delta and Northwest in 2005. In each situation, bankruptcy gave the airlines the chance to cancel their debt, get rid of responsibility for employee pensions and renegotiate more favorable contracts with labor unions.
For a long time, Mr. Arpey voiced his opposition to bankruptcy, but the airline struggled because of it. “Our bankrupt colleagues all made net profits, good net profits last year, and we didn’t,” Mr. Arpey told me a few months ago. “And you can mathematically pinpoint that to termination of pensions, termination of retiree medical benefits, changes of work rules, changes in the labor contracts. That puts a lot of pressure on our company, not to be ignored.”
Over the last eight years, I have interviewed hundreds of senior executives for a major academic study on leadership, including six airline C.E.O.’s. Mr. Arpey stood out among the 550 people I talked with not because he believed that business had a moral dimension, but because of his firm conviction that the C.E.O. must carefully attend to those considerations, even if doing so blunts financial success or negates organizational expediency. For him, it is an obligation that goes with the corner office.
When we discussed the prospect of bankruptcy at American he spoke with an almost defiant tone of the company’s commitment to its employees and holders of its stock and debt. “I believe it’s important to the character of the company and its ultimate long-term success to do your very best to honor those commitments,” he said. “It is not good thinking — either at the corporate level or at the personal level — to believe you can simply walk away from your circumstances.”
But after being the only major airline with a net loss last year and with dismal prospects ahead, American joined the rest of its major competitors when the board declared bankruptcy. The board requested that Mr. Arpey stay on, but as he wrote to American’s employees, “executing the board’s plan will require not only a re-evaluation of every aspect of our business, but also the leadership of a new chairman and C.E.O. who will bring restructuring experience and a different perspective to the process.”
Mr. Arpey may be the only airline C.E.O. who regarded bankruptcy not simply as a financial tool, but more important, as a moral failing. In a day and age of outrageous executive compensation and protest movements justifiably angered at the self-serving nature of the 1 percent, it is refreshing to see a C.E.O. leave a position with honor even as he loses a long-fought battle.
Protesters at Occupy Wall Street are mad because, to them, financial considerations are inherently moral. It is a troubling commentary on American business that perhaps the last C.E.O. who agreed with them no longer calls the shots for one of the nation’s most venerable companies.
Terjemahan :
TI tampaknya bahwa setiap minggu kita mendengar dari C.E.O. yang meraih jutaan dari parasut emas setelah menunjukkan penilaian bisnis yang buruk atau memotong ribuan pekerjaan tanpa downside keuangan untuk eksekutif. Cerita-cerita pakan api gerakan Menempati berkembang di seluruh dunia.

Tapi pada hari Selasa, kami mendengar sesuatu yang berbeda. American Airlines, setelah maskapai penerbangan terbesar di Amerika Serikat, menyatakan kebangkrutan. Ini bukan berita mengejutkan untuk industri penerbangan yang terkepung, apa yang berbeda adalah apa yang muncul dari reruntuhan. Gerard J. Arpey, CEO Amerika petugas dan ketua, mengundurkan diri dan melangkah pergi dengan ada paket pesangon dan kepemilikan saham hampir tidak berharga. Ia berpisah dengan majikannya dari 30 tahun keluar dari keyakinan bahwa kebangkrutan adalah salah secara moral, dan bahwa dia tidak bisa, dalam hati nurani yang baik, memimpin organisasi yang mengikuti jalan ini akrab.

Sesuatu telah sulit untuk disebut pembawa warisan sejak Undang-undang Deregulasi Airline tahun 1978, karena mereka telah ditarik dalam arah yang berlawanan dengan tuntutan pelanggan untuk tarif yang lebih rendah dan tuntutan tenaga kerja untuk upah yang lebih tinggi. Peristiwa 9 / 11 lebih mengguncang industri, diikuti oleh krisis minyak dan resesi terakhir.

Sejak Kongres dideregulasi industri, telah umum bagi maskapai penerbangan untuk mengklaim kebangkrutan dan berkumpul kembali di bawah penampungan sementara yang disediakan oleh Bab 11. Kontinental diajukan pada tahun 1983 dan 1990, Serikat pada tahun 2002, US Airways pada tahun 2002 dan 2004, dan Delta dan Northwest pada tahun 2005. Dalam setiap situasi, kebangkrutan maskapai penerbangan memberikan kesempatan untuk membatalkan utang mereka, menyingkirkan tanggung jawab untuk pensiun karyawan dan menegosiasi ulang kontrak-kontrak yang lebih menguntungkan dengan serikat pekerja.

Untuk waktu yang lama, Mr Arpey menyuarakan oposisi untuk kebangkrutan, tetapi maskapai ini berjuang karena itu. “Rekan-rekan kami semua dibuat bangkrut laba bersih, laba bersih yang baik tahun lalu, dan kami tidak,” kata Mr Arpey saya beberapa bulan lalu. “Dan Anda dapat menunjukkan bahwa matematis penghentian pensiun, pemutusan manfaat pensiunan medis, perubahan aturan kerja, perubahan dalam kontrak kerja. Yang menempatkan banyak tekanan pada perusahaan kami, tidak dapat diabaikan. ”

Selama delapan tahun terakhir, saya telah mewawancarai ratusan eksekutif senior untuk studi akademis utama tentang kepemimpinan, termasuk enam CEO maskapai penerbangan. Mr Arpey berdiri di antara 550 orang yang saya berbicara dengan tidak karena ia percaya bahwa bisnis memiliki dimensi moral, tetapi karena keyakinan bahwa CEO harus hati-hati memperhatikan pertimbangan-pertimbangan, bahkan jika hal itu menumpulkan atau meniadakan kesuksesan finansial kebijaksanaan organisasi. Baginya, itu adalah kewajiban yang berjalan dengan sudut kantor.

Ketika kita membicarakan prospek kebangkrutan di American ia berbicara dengan nada yang hampir menantang komitmen perusahaan kepada karyawan dan pemegang saham dan utang. “Saya percaya itu penting untuk karakter perusahaan dan utamanya keberhasilan jangka panjang untuk melakukan yang terbaik untuk menghormati komitmen tersebut,” katanya. “Ini bukan pemikiran yang baik – baik di tingkat perusahaan atau di tingkat pribadi – untuk percaya Anda hanya bisa berjalan jauh dari keadaan Anda.”

Tapi setelah menjadi maskapai utama hanya dengan rugi bersih tahun lalu dan dengan prospek suram depan, Amerika bergabung dengan sisa pesaing utama ketika papan menyatakan kebangkrutan. Dewan meminta agar Mr Arpey tetap, tetapi karena dia menulis kepada karyawan Amerika, “melaksanakan rencana dewan akan membutuhkan tidak hanya evaluasi ulang setiap aspek bisnis kami, tetapi juga kepemimpinan seorang ketua baru dan CEO yang akan membawa pengalaman restrukturisasi dan perspektif yang berbeda pada proses. ”

Mr Arpey mungkin satunya maskapai penerbangan C.E.O. yang menganggap kebangkrutan tidak hanya sebagai alat keuangan, tetapi yang lebih penting, sebagai kegagalan moral. Dalam satu hari dan usia kompensasi eksekutif keterlaluan dan gerakan protes dibenarkan marah pada sifat mementingkan diri sendiri dari 1 persen, adalah menyegarkan untuk melihat CEO meninggalkan posisi dengan kehormatan bahkan meskipun ia kehilangan pertempuran panjang-berjuang.

Para pengunjuk rasa di Menempati Wall Street marah karena, bagi mereka, pertimbangan keuangan secara inheren moral. Ini adalah sebuah komentar mengganggu pada bisnis Amerika yang mungkin CEO terakhir yang setuju dengan mereka tidak lagi menyebut gambar untuk salah satu perusahaan negara yang paling terhormat.

Perbandingan Iklan
Iklan kartu as ini mengisahkan mengenai grup klanting dan sule yang ingin tampil menyanyikan jingle kartu as. Sebelum mulai taking vokal, ada seorang yang mengecek sound dengan berkata cek..cek..123..Namun sule berkata “cek 123 mulu, langsung aja!”Grup klanting dan sule pun menyanyikan jingle kartu as. Di situ sule mempromosikan fiture dari kartu as seperti nelpon paling murah dari detik pertama, plus gratis 5000 sms ke semua operator. Bli kartu As sekarang juga!!, ujar sule. Di bagian akhir iklan ada seorang anak kecil yang berkata, “kartu as paling murah ya om sule!” dan sule berkata “ho-oh”. Berikut merupakan video iklannya.

Iklan tersebut cukup menarik. Dengan diiringi musik dai grup kalntink yang merupakan jebolan dariajang pencarian bakat IMB, iklan ini mampu menyampaikan keunggulan kartu as dan program promosi yang disampaikan oleh sule. dengan slogan kartu as paling murah. Hal ini terbukti dari tarif dan promosi yang ditawarkannya, yaitu nelpon Rp 0,- dan gratis 5000 sms.

Kelebihan dari iklan ini adalah mampu menyampakan pesan dengan baik dan mudah dimengerti. Selain itu iringan musik yang ringan dan enak di dengar mampu menambah daya tarik iklan ini.

Kekurangan dari iklan ini adalah iklan ini menyindir provider lain, yaitu kartu xl. Jelas sekli terlihat dari awal iklan yaitu seorang yang mengecek sound dengan ucapan cek 123 dan dilanjutkan dengan ucapan sule yang berkata “cek123 mulu, langsung aja!” Hal ini jelas menyindir kartu xl yang. Sebab cek 123 merupakan layanan dari kartu xl untuk mengetahui info kartunnya dan countent-countent yang terdapat pada kartu xl seperti, nelpon gratis, sms gratis dll dengan registrasi terlebih dahulu. Di akhir iklan, ada seorang anak kecil yang mirip dengan baim dengan mengatakan kartu as paling murah ya om sule. Baim merupakan bintang iklan dari kartu xl. Dengan mengatakan hal seperti itu berarti kartu as ingin menunjukkan bahwa layanannya paling murah dibanding kartu .

Produk lain yang sejenis, yaitu kartu xl.
Produk dengan zargon gratis nelpon berkali-kali dari detik pertama menceritakanrkan iklannya dengan menunjukka aktivitas yang ingin dilakukan seseorang dengan tulisan di kaosnya. ada yang kangen nyokap, kangen temen dan kangen doi. Baim membawa balon yang bertuliskan Rp 0 di setiap aktivitas yang dlakukan oleh oprang-orang tadi. Iklan ini sama menarinya dengan iklan kartu as. Berikut adalah iklan kartu xl nya. dan yang lebih terlihat dibanding kartu as, iklan xl tidak menyinggung, menjelekkan dan menjatuhkan provider lain.

video 2

Saran untuk iklan kartu as
Jika dilihat, iklan kartu as belakangan ini selalu menjatuhkan provider lain. Sebaiknya untuk persaingan bisnis yang baik hal ini tidak perlu dilakukan. Cara seperti ini merupakan persaingan yang tidak sehat. Iklan as yang baru bahkan menyindir provider lain yaitu kartu axis. Kartu axis mempunyai tarif telpon gratis yang hanya berlaku pada pukul 00.00 sampai pukul 17.00. sedangkan pada jam malam pukul 17.00 sampai dengan pukul 00.00 tarifnya sedikit lebih mahal. Pda awal iklan terdengar sirene yang berbunyi menandakan jam malam, dan pada iklan tersebut terlihat pukul 18.00. Berikut iklannya:

video 3

Ini merupakan provider axis yang disindir sama kartu as, berikut iklannya:

video 4

Diposkan oleh umam milanist

Iklan Reklame

Di Indonesia, terdapat kecenderungan membedakan reklame dan iklan berdasarkan kategori penempatannya; sehingga reklame digunakan untuk menyebutkan media periklanan ruang luar , sedangkan iklan untuk menyebutkan media periklanan ruang dalam.
Bila ditinjau dari etimologinya, reklame dan iklan mempunyai makna yang setara. Iklan dari kata i’lan (bahasa Arab) berarti pengumuman, dan reklame berarti seruan yang berulang; maka kedua istilah yang terkait dengan media periklanan ini mengandung makna yang setara yaitu untuk kegiatan penyampaian informasi kepada masyarakat atau khalayak sasaran pesan. (http://id.wikipedia.org/wiki/Reklame)
Secara visual, karakteristik reklame memiliki kontribusi utama terhadap kesan suatu lingkungan. Penempatan reklame di luar ruangan memiliki pengaruh terhadap kehidupan perkotaan, karena media tersebut rata-rat memiliki orientasi lokasi pada jalan-jalan protocol perkotaan yang memilki keuntungan lokasi strategis,kelengkapan sarana/fasilitas social & ekonomi, serta kegiatan infrastrukturnya.
Terjadi hibungan mutalis bagi pemerintah daerah dan pengusaha penyelenggara papan reklame. Bagi Pemerintah daerah adanya penerimaan retribusi reklame yang merupakan Pendapatan Asli Daerah (PAD), maka tidak heran jika lebih mementingkan retribusi daripada keindahan keselamatan dan keamanan linkungan kota. Bagi pengusaha, media reklame merupakan sarana promosi dari produknya sehingga produknya dikenal oleh masyarakat luas.\
Di Kota Surabaya, kurang baiknya penempatan reklame luar ruangan berdampak pada penurunan estetika dan kualitas visual lingkungan serta penurunan keamanan dan keselamatan publik. Sebagai upaya pembaruan, pada tahun 2004 melalui SK Walikota No.12 Tahun 2004 disusun mekanisme mengenai Penataan Reklame, kemudian pada tahun 2006 dikeluarkan Peraturan Daerah No.8 tahun 2006 tentang Penyelenggaraan Reklame dan Pajak Reklame serta Peraturan Walikota Surabaya No.85 tahun 2006 tentang Tata Cara Penyelenggaraan Reklame. Meskipun telah ada regulasi mengenai penyelenggaraan dan penataan reklame, tidak berarti masalah reklame di Kota Surabaya bisa diselesaikan dengan mudah.. (http://digilib.its.ac.id)

Etika Reklame di Surabaya
Iklan Billboard rokok A Mild

Reklame Jl. Urip Sumoharjo

Reklame Danone Aqua

reklame gerbang Toll Mayjen Sungkono Surabaya
Ulasan :

Reklame rokok di jalan urip sumoharjo bertemakan siang dipendam malam balas dendam merupakan reklame yang unik dan menarik. Namun apabila dilihat dari sudut pandang umat muslim yang menunaikan ibadah puasa hal ini tidaklah etis dan menyudutkan. Sepaututnya pemda harus jeli memberikan ijin kepada pemasng iklan.
Teguh Ardi Srianto, reporter Suara Surabaya melaporkan Reklame rokok A Mild dengan materi iklan versi Thematic Ramadhan “Siang Dipendam Malam Balas Dendam, Tanya Kenapa” dituding DPRD Surabaya tidak bermoral. Itu disampaikan Dewan Yulyani dari Fraksi Demokrat Keadilan DPRD Surabaya. Materi iklan yang disampaikan PT HM Sampoerna dalam reklamenya di beberapa titik Kota Surabaya sangat menyakitkan umat Islam dan melanggar Perda nomor 8 tahun 2006 tentang reklame. YULYANI menilai reklame A Mild tersebut mencerminkan kalau pengusaha reklame sering melanggar Perda, tidak hanya tentang perijinan yang dilanggar, tapi isi materi iklan juga dilanggar.
apabila dibandingakan dengan iklan Danone Aqua air mineral dalam program corporate socialresponsibility (CSR) melalui media Billboard 2008 lalu, reklame ini lebih beretika. Iklan dalam billboard ini menyampaikan kepada masyarakat bahwa air merupakan kebutuhan mendasar bagi kita semua., namun tidak semua orang bisa mengakses air bersih dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kegiatan CSR ini Aqua mengupayakan program pengadaan air bersih bagi masyarakat di daerah yang mengalami kesulitan iar bersih yaitu di Timor Tengah Selatan, NTT. Progaram ini sesuai dengan citra produk yang dihasilkan Aqua yaitu air mineral.
Reklame merupkan media untuk mensosialisasikan produk atau jasa kepada masyarakat. Dalam dunia periklanan pasti selalu mengatakan bahwa produknya yang terbaik walaupun dalam kenyataannya tidak demikian. Para penyelenggara reklme juga harus mematuhi kode etik iklan, antara lain tidak boleh menyindir atau melecehkan produk lain,dak menampilkan gambar yang mendiskriditkan suku,agama, atau suatu golongan dan Walaupun kode etiknya sudah ada tak jarang para pengiklan sering melanggar kode etik tersebut seperti contoh iklan dalam reklame yang telah dibahas di atas.

DAFTAR PUSTAKA

1. (http://digilib.its.ac.id )
2. http://www.google.co.id/imgres?imgurl=http://donnaisra.files.wordpress.com/2007/10/pagi-siang1.jpg&imgrefurl=http://donnaisra.wordpress.com/2007/10/10/siang-dipendam-malam-balas-dendam/&usg=__k2Uo2uQsW9TaV8dj0Ch9NLe8ay4=&h=375&w=500&sz=95&hl=id&start=1&sig2=vMJJYTwFkD0zJ0TVnyTYPg&zoom=1&tbnid=rEJ3HawYw-W1oM:&tbnh=98&tbnw=130&ei=jH0AT46oFY7jrAfmh7T8Dw&prev=/search%3Fq%3Dbillboard%2Bsiang%2Bdipendam%2Bmalam%2Bbalas%2Bdendam%26hl%3Did%26client%3Dfirefox%26hs%3Dpr3%26sa%3DX%26rls%3Dcom.yahoo:id:official%26biw%3D1102%26bih%3D628%26tbm%3Disch%26prmd%3Dimvns&itbs=1
3. http://digilib.its.ac.id
4. http://novrianti.wordpress.com/2007/09/20/siang-dipendam-malam-balas-dendam/
5. http://www.google.co.id/imgres?imgurl=http://bp3.blogger.com/_epqsCgJ7dGw/R8Pq0qcIvVI/AAAAAAAABz0/EEdZv5uHuow/s400/Bundaran%2BTol%2BMayjen%2BSungkono%2B2.JPG&imgrefurl=http://iklanoutdoor-surabaya.blogspot.com/&usg=__9PC60f2tnH1ngw54WCfl_llRNBA=&h=400&w=300&sz=29&hl=id&start=9&sig2=eYDWNCzkxzza-pr74eHYHQ&zoom=1&tbnid=K1B7GW7HrsyRQM:&tbnh=124&tbnw=93&ei=RrEAT475OsvJrAeLicC4Cg&prev=/search%3Fq%3Dreklame%2Bmayjen%2Bsungkono%26hl%3Did%26client%3Dfirefox%26hs%3DPJ7%26sa%3DX%26rls%3Dcom.yahoo:id:official%26biw%3D1525%26bih%3D657%26tbm%3Disch%26prmd%3Dimvns&itbs=1